ASMAT DAN BAHASA INDONESIA


ILMU BUDAYA DASAR
“ ASMAT DAN BAHASA INDONESIA ”





Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
  
Tanggal Tugas : 23 Desember 2011
Kelas : IEA20
Nama :
No.
Nama Lengkap
NPM
1
Hane Kartika
13211191


  PENDAHULUAN

         Banyak sekali sekolah-sekolah (sekolah dasar) yang memiliki gedung yang megah, sarana-prasarana yang lengkap dan memadai, guru-guru yang berkompeten yang setiap hari tidak pernah absen untuk datang kesekolah untuk mengajar murid-muridnya, serta peserta didik yang memiliki semangat luar biasa untuk menempuh pendidikan.
          Namun pada kenyataannya tidak semua sekolah dasar (SD) memiliki kondisi seperti itu, kondisi yang telah didiskripsikan tadi hanya ada di sekolah dasar (SD) yang ada di kota, sedang kan kondisi pendidikan sekolah dasar (SD) yang ada di pedalaman sangat jauh berbeda dengan yang ada di kota.
          Kondisi pendidikan sekolah dasar (SD) yang ada di pedalaman berbanding terbalik dengan kondisi pendidikan sekolah daasar yang ada di kota, bahkan bisa dikatakan bahwa kondisi pendidikan sekolah dasar (SD) di pedalaman sangatlah memprihatikan. Banyak kita jumpai anak-anak yang sudah kelas IV SD di sekolah dasar tapi maasih buta huruf atau belum bisa membaca dan  menulis.

 LATAR BELAKANG MASALAH

Seperti yang kita ketahui keadaan sekolah dasar yang berada di ibu kota sangatlah berbeda dengan yang terjadi di sekolah dasar (SD) pedalaman. Di sekolah dasar (  SD ) pedalman asih banyak masalah-masalah pendidikan yang menjadi penghabat suksesnya kegiatan belajar mengajar dan mencerdaskan anak bangsa diantaranya adalah masalah-masalah mengenai :

1. Sarana Prasarana Yang Terbatas
          Banyak sekolah dasar di daerah pedalaman yang sarana dan prasarananya tidak memadai seperti bagunan yang tidak layak seperti dengan bangunandi perkotaan yang layak dengan bangunan permanen

2. Kurangnya Guru atau Tenaga Pendidik
           Di pedalam guru sekolah dasar sangat kurang, banyak sekolah yang hanya memiliki 2 atau 3 guru saja bahkan hanya memiliki seorang guru.





3. Banyak Guru Yang Kehilangan Idealisme
         Banyaknya tenaga guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang enggan mengabdikan dirinya di daerah pedalaman dinilai kurang berkomitmen untuk mencerdaskan pendidikan anak termasuk peserta didik. Hal itu disebabkan kebanyakan guru sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru sejati. Kalau guru memiliki idealisme tinggi, tanggung jawb dan komitmen sebagai seorang guru pasti akan berupaya semaksimal mungkin memajukan siswanya. Seorang guru punya idealisme untuk memikirkan persoalan pendidikan yang selama ini menjadi suatu permasalahan serius di Indonesia. Saat ini kebanyakan guru enggan jika ditempatkan di daerah-daerah pedalaman. Guru-guru yang sudah diangkat menjadi PNS tinggal di kota dan jarang sekali mengajar dengan alasan akses jalan yang sulit dan minimnya transportasi untuk menjangkau daerah tersebut.

4. Letak Sekolah Yang Jauh
         Persoalan yang banyak menjadi keluhan para guru adalah lokasi yang terpencil dengan jalan yang masih belum beraspal. Tidak jarang jika musim penghujan banyak dari guru yang jatuh dari sepeda motor karena jalan yang teramat sulit dan licin. Mereka semua harus menempuh perjalanan beberapa kilometer setiap harinya untuk mengajar .Sebagian besar sekolah dasar yang ada di pedalaman terletak di daerah terpencil yang sangat sulit dicapai dengan minimnya akses menuju sekolah dan tidak adanya saraca transportasi yang dapat mencapai sekolah. Kebanyakan sekolah yang dapat diakses melalui jalan darat memerlukan waktu sekitar 15 sampai 90 menit. Dan tidak semua bisa melalui jalan darat, karena ada wilayah sekolah yang harus melalui jalur sungai yang memerlukan waktu sampai 1.5 jam.


5. Kondisi sosial ekonomi

         Kebanyakan penduduk yang tinggal di pedalaman memiliki perekoniam keluarga di bawah rata-rata. Kondisi perekonomian orang tua akan berpengaruh terhadap pendidikan anak di daerah pedalaman.


6. Minimnya Kesejahteraan
           Kondisi guru dan murid-murid yang berada di daerah pedalaman minim kesejahteraan, hanya sesekali saja mereka mendapat bantuan.

    

  Dari masalah-masalah inilah hati saya tergugah untuk memperbaiki keadaan pendidikan yang ada dalam  suku pedalaman yang ada di dalam negri kita tercinta Indonesia. Hal ini yang embuka semangat saya untuk memberikan kemampuan yang saya punya dengan sebaik-baik dan sebenar-benarnya kepada suku-suku pedalaman untuk menaikan taraf hidup pendidikan di negri kita.


ISI

“ Berbeda beda tetapi tetap satu jua, itulah Indonesia ”.

          Kalimat diataslah yang pasti sangat dekat dengan pemandangan anda dalam bernegara.
         Jika kita melihat buku ragam budaya di tanah air, tentunya kita akan mengetahui bahwa Negara kita tercinta ini Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya, salah satunya adalah Suku Asmat, suku yang mendiami wilayah timur Indonesia (Papua). Marilah kita tengok lebih dalam mengenai suku Asmat.
         Suku Asmat adalah sebuah suku yang berada di salah satu bagian wilayah Negara kita yaitu Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayu yang sangat  mempesona.
         Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu :
1. Mereka yang tinggal di pesisir pantai dan
2. Mereka yang tinggal di bagian pedalaman.
        Kedua populasi ini saling berbeda satu dalam hal cara hidup, struktur sosial, dan ritual.
        Populasi pesisir pantai terbagi ke dalam dua bagian yaitu
1. Suku Bisman yang berada di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin serta
2 .Suku Simai.
           Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya.
       
Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.


        Pada umumnya dalam satu suku dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. Yang dimana setiap sukunya mempunyai punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga.
        Rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan.
        Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri.
        Suku Asmat memiliki cara yang sederhana untuk merias atau mempercantik  diri mereka. Seperti tanah merah untuk menghasilkan warna merah, untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan, sedangkan warna hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunakan untuk mewarnai tubuh.
        Selain budaya, penduduk Asmat juga amat pandai membuat ukiran.
        Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.
         Konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. Namun kini membuat patung bagi Suku Asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi, sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. Mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah di luar Papua.
         Dalam kehidupan Suku Asmat, batu yang biasa kita lihat di jalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal Suku Asmat yang membentuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.

Mata Pencarian

       Orang-orang Suku Asmat menganggap dirinya bagian dari alam. Karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya bahkan, pohon di sekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan. Buah menggambarkan kepala. Akar menggambarkan kaki.
        Orang-orang Suku  Asmat Melakukan kegiatan bercocok tanam di ladang, dengan jenis tanamannya wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi juga beternak ayam, babi.
       Sehari-hari orang Asmat bekerja tidak jauh dari lingkungan sekitarnya, terutama untuk mencari makan. Anak-anak harus membantu orangtuanya.
       Mereka mencari umbi, udang, kerang, kepiting, dan belalang untuk dimakan. Sementara itu para bapak menebang pohon sagu serta berburu binatang di hutan. Bahan makanan yang sudah terkumpul dimasak oleh para ibu. Selain punya tugas memasak, para ibu juga mempunyai tugas menjaring ikan di rawa-rawa.

Budaya

          Suku Asmat memiliki karya khas dalam ukiran  kayu yang menjadi kekayaan budaya Suku Asmat yang telah dikenal oleh para turis asing.
          Karakteristik ukiran kayu Suku Asmat mempunyai pola yang unik dan bersifat naturalis. Dari pola-pola itu terlihat kerumitan cara pembuatan sehingga pembuatan  karya ukir mereka bernilai tinggi dan cukup banyak diminati para turis asing.
          Dari segi bentuk, ukiran kayu Suku Asmat sangat beragam, di mulai dari patung manusia, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari, sampai ukiran tiang.  
          Suku Asmat biasanya mengambil pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran kayu mereka, seperti pohon, perahu, binatang, orang berperahu, dan lain-lain.
         Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub etnis, yang di mana masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. Begitu juga dengan kayu yang digunakan, ada juga perbedaannya. Ada sub etnis yang mengutamakan ukiran patungnya, ada yang mengutamakan ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan dinding dan peralatan perang.
         Yang sangat istimewa dan menjadi ciri adalah ketika setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikatnya karena para suku asmat tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar. Jadi, kalau kita memiliki satu ukiran dari Asmat dengan pola tertentu, itu adalah satu-satunya yang ada karena orang Asmat tidak membuat pola sama dalam ukirannya. Bentuk boleh sama, misalnya perisai atau panel, tetapi soal pola pasti akan berbeda. Itulah keunikan ukiran Suku Asmat.
        Mengenal Suku Asmat mempunyai kesan  karena Suku Asmat merupakan salah satu ikon budaya Indonesia yang menjadi nilai tersendiri untuk di kembangkan menjadi surga pariwisata di kawasan timur Indonesia.

 Adat Istiadat  

       Dalam kehidupannya, Suku Asmat memiliki 2 jabatan kepemimpinan, yaitu :
 1. Kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah dan
 2. Kepala adat/kepala suku yang berasal dari masyarakat.
       Sebagaimana lainnya, kapala adat/kepala suku dari Suku Asmal sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan yang berlaku di lingkungan ini. Karena segala kegiatan di sini selalu didiihului oleh acara adal yang sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan yang sifatnya resmi, diperlukan kerjasama antara kedua pimpinan ssangat diperlukan untukmemperlancarprosestersebut.
        Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tidak diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi dipilih dari orang yang berasal dari fain, atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang pahlawan yang berhasil dalam peperangan.
Sebelum para misionaris pembawa ajaran agama datang ke wilayah ini, masyarakat Suku Asmat menganut Anisme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan,KhatolikbahkanIslam.
       Dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat, melalui berbagai proses, yaitu :

1.Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.

2.Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.

3.Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap. Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa yang unik lainnya dimana anak babi disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.

4.Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

Kepercayaan Terhadap Roh Leluhur

         Suku Asmat  menganut kepercayaan animisme, sama seperti berbagai suku tradisional di seluruh dunia.
         Kepercayaan terhadap hal gaib berupa roh leluhurlah yang mereka  anut.
         Kepercayaan ini  diolah dalam keahlian membuat ukiran kayu  tanpa sketsa. Mereka percaya, roh leluhur akan membimbing mereka untuk menyelesaikan patung ukiran yang mereka buat.
         Nama patung ukiran yang menceritakan tentang arwah para leluhur mereka  biasa disebut dengan Mbis. Mbis ini banyak dijumpai di rumah adat Suku Asmat terutama Jew. Yang mana dipercaya roh leluhur akan turut menjaga rumah yang mereka bangun dengan adanya Mbis didalamnya.


Rancangan Kerja

 SATUAN ACARA KERJA HANE KARTIKA
SEKOLAH DASAR ASMAT 01

MATA PELAJARAN                         :  Bahasa Indonesia

JENJANG                                            :  Sekolah Dasar
TINGKAT                                            :  1 ( Satu )

Minggu
KE-
Pokok Bahasan
Tujuan Umum
Cara Pengajaran
Media Pengajaran
Tugas
1 - 2
Melengkapi Kalimat
    Anak dapat belajar
   melengkapi kalimat
   dengan cara
   memperhatikan gambar
  dan kalimatnya.

Tatap muka  dan  Diskusi
Black board, Alat peraga
Pekerjaan Rumah dan Latihan
contoh :
1.  A-N-A-D  = ANDA
3 - 4
Mengenal Benda
   Anak dapat mengetahui
   benda-benda
  disekitarnya dengan 
  cara memperhatikan
  gambar.
Tatap muka dan Games
Black board, Alat peraga
Pekerjaan Rumah dan Latihan
contoh :

1. 
 GAMBAR DISAMPING ADALAH = PENSIL
5 - 6
Mengelompokan Makhluk Hidup
   Anak dapat
   mengelompokkan
   makhluk hidup sesuai
   pertanyaan dan
   gambar yang tampil.

Tatap muka dan Games
Black board, Alat peraga
Pekerjaan Rumah dan Latihan
contoh :
1. IKAN TERMAKSUD KELOMPOK  =  HEWAN
7 - 8
Menyusun huruf
   Anak dapat menyusun  
   huruf dengan tepat.

Tatap muka dan Diskusi.
Black board, Alat peraga
Pekerjaan Rumah dan Latihan
contoh :
1.  A-N-A-D  = ANDA

9  - 10
Menyusun Kata Acak

Anak dapat menyusun kata-kata menjadi sebuah kalimat yang benar.



Tatap muka Dan Diskusi
Black board, Alat peraga
Pekerjaan Rumah dan Latihan
contoh :
1.MEMBACA-BUDI  =
BUDI MEMBACA



HARAPAN PENYELESAIAN TUGAS

Bagi Diri Saya Sendiri

-  Saya dapat menjalankan tugas dengan baik.
-  Tugas yang saya berikan berguna bagi peserta didik dan masyarakatnya.
-  Peserta didik dapat memahammi dengan baik dan cepat tentang aplikasi  
   pelajaran yang saya berikan.
-  Pesrta didik dapat menigkatkan program belajar / semangat yang ada.
-  peserta didik dapat mendapatkan materi pembelajaran yang sama dengan   
   peserta didik di ibu kota dengan penerapan materi yang sama .


Bagi Anak Didik

-   Siswa mapu memahami dengan baik dan benar tenytang apa pelajaran bahasa
    indonesia itu.
-  Siswa mampu ngeaplikassikannya kedalam kegiatan sehari-hari.
-  Siswa dapat menciptakan niat belajar yang tinggi untuk mengubah hidup.
-  Siswa dapat mengajak teman-temanya agar lebih serius dalam pebelajaran.

Bagi Masyarakat Sekitar

- Dapat membuka kesadaran bahwa arti pendidikan itu sangatlah penting.
- Dapat menurunkan tingkat kebodohan yang ad adengan program baca tulis
- Masyarakat lebih dapat mengenal bahasa indonesia dengan baik dan benar
- Dapat menaikan taraf hidup dan pendidikan di negara kita tercinta.
- Dapat menciptakan masayarakat yang bertanggung jawab akan arti pendidikan

 PENUTUP

Begitulah sedikitnya yang bisa saya bahas tentang tulisan saya kali ini yang bertopik kepada
 “ BILA ANDA MENJADI GURU DI PELOSOK INDONESIA “. Semoga bermanfaat  bagi anda semua , dan dapat menggugah hati dan perasaan anda untuk menaikan taraf pendidikan yang ada di negara kita tercinta khususnya pada daerah daerah dinegari kita yang masih belum terjamah dengan cara anda masing-masing.


“ BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA RUNTUH “
TERIMAKASIH



  DAFTAR PUSTAKA

http://ksuponter.com/suku-asmat-sosok-budaya-indonesia-di-papua
http://pendidikan.com/penndidik-di-sekolah-dasar-pedalaman-sangat-meperihatinkan-di-papua


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Posting Komentar